Tangis Keluh;Putih Abu-abu
Terik mentari bermandikan lelah
Sebagai orang yang pantang kalah
Masih bertumpuh pada hak sepatu
Berjalan menyusuri waktu
Mengukir lukis diatas batu
Melipat Tangan diatas bangku
Berdiam diri menyimak cik gu’u
Pun menulis angka sembilan diatas buku
Sejak tiga tahun lalu
Daku selalu setia membungkus tubuh
Dan semua tak bermakna sejak detik terakhir
Saat tuanku menangis tersudut pilu
Secarik amplop mencabik seluruh rasa
Berubah menjadi halilintar menyambar raga
Dari perut mendung hujan tak terbendung
Butir bening yang terburai
Berpesan padaku;
Aku harus setia lagi
Satu tahun lagi
Rumah kedua, 29 April 2010
Hijau yang kian gundah
Aku memujimu karna kau:
Burung kenari bertengger didaun hijau
Nafasku berasal dari nafasmu
Hujan tersimpan dilumbung akar
Pun musafir berteduh
Tapi kau :
Telah musnah
Tergorok gigi besi
Tersingkir liberalisme
Tercabik pikiran dangkal
Hingga menyisahkan gersang
Masih adakah?
Orang merindumu,
Orang menyayangimu,
Orang menjagamu,
Haruskah hanya berharap
Pada pertemuan kemarin ?
23 desember 2009
Lelah yang Tak Berakhir
Melihat teman seusiaku pergi
Berkendara mobil dan bendi
Berpakaian rapi
Bersisir rentak gelombang pagi
Hanya membuat hayalku mati
Jauh dipuncak sepi
Berteman embun suci
Aku nenjelajah alam mengais rizki
Dari sisa energi
Ku dapat sesuap nasi
Bukan dengki atau iri
Hanya sedikit ngeri
Kok,nasibku seperti ini ?
Selalu bergelut dengan caci maki
Tapi alam menguatkan rohani
Desiran angin membawa pesan untuk hati
Hembuskan pesan moral yang tak henti
“bunda slalu tanamkan jangan pernah menyerah”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar