UN;Riau Peringkat Tiga Nasional*, Bukan Prestasi
Opini
Oleh : Puput Jumantirawan, Anggota FLP Pekanbaru,Redaktur LPM AKLaMASI
Ujian nasional (UN) sebagai sebuah metode evaluasi bagi para siswa SMA sederajat untuk dijadikan tolak ukur kelulusan. Apakah Ujian Nasional bisa menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan nasional kita? Jawabannya tentu saja bisa, tapi bukan satu-satunya dan apalagi menjadi tolok ukur utama.Jawaban itupun disertai dengan catatan bahwa Ujian Nasional dilaksanakan dengan jujur, adil, transparan, dan memiliki akuntabilitas. Pertanyaan mendasar kemudian adalah:“Apakah ujian nasional selama ini sudah dilaksanakan seperti itu?” Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa Ujian Nasional masih dipenuhi dengan kecurangan dan ketidak adilan. Dalam hal ini katidak adilan sangat jelas terlihat, menyangkut soal UN. Tentu saja, tidak bisa menyamaratakan bobot soal. Antara Sekolah Standar Internasional dengan Standar Nasional haruslah berbeda tingkat kesulitannya. Sekolah Unggulan dengan Sekolah “Pinggiran” pasti berbeda. dengan sekolah di kota. Di sinilah seharusnya dimaksimalkan fungsi dinas pendidikan dalam meng-evaluasi dan melakukan pemetaan kualitas pendidikan di daerah masing-masing.
Pada tanggal dua puluh enam lalu hasil UN sudah kita ketahui. Masih saja sama dengan tahun-tahun sebelumnya diwarnai dengan kompoi, semprat-semprot baju sebagai bentuk kegembiraan, akan tetapi ada juga isak tangis bahkan ada yang menjerit histeris hingga semaput bagi para siswa-siswi yang tidak lulus tentunya. Saat menyaksikan fenomena rutin ini, saya jadi teringat peristiwa beberapa tahun yang lalu, ketika saya berada pada posisi yang sama sebagai siswa yang harap-harap cemas menunggu hasil UN. Hingga pada hari yang ditunggu tiba, sebuah kejutan terjadi. Dari seratus lebih siswa kelas tiga satu angkatan, hanya satu orang yang tidak lulus UN. Kenyataan ini, membuat banyak pihak terpukul, pasalnya siswa yang tidak lulus ini adalah seorang siswa yang dapat saya katakana cukup cerdas dan berprestasi disekolah kami.Akibat dari ketidak lulusannya, menyebabkan prestasi yang selama ini diukir terasa tidak ada artinya. Sebuah kenyataan terbalik justru terjadi pada peserta didik yang dapat saya katakana (maaf sebelumnya) badung. Siswa yang sudah berkali-kali pindah sekolah dikarenakan tidak naik kelas, sering bolos sekolah, nilai merah selalu menghiasi rapornya justru mereka ini lulus UN dan kemudian diketahui memperoleh nilai yang cukup memuaskan. “ saya aja heran kenapa bisa lulus” demikian kawan tadi berkata ketika kami berbincang pada saat itu.
Beberapa waktu lalu kita pernah dikejutkan dengan ketidak lulusan peraih mendali emas pada olimpiade fisika. Mungkin banyak pertanyaan yang timbul, kok bisa tidak lulus siswa sepintar dia? Sebuah pertanyaan yang tidak akan terjawab dengan logika.Dari fenomena yang terjadi berdasarkan perenungan cerita nostalgia saya diatas, saya berkesimpulan bahwa UN bukanlah sebuah program evaluasi yang efektip untuk menentukan dan mengukur kualitas siswa yang berujung pada penentuan lulus atau tidak lulusnya.
Tahun ini Riau menduduki peringkat ketiga sebagai provinsi dengan tingkat kelulusan 96,86 persen setelah Bali dan Jawa barat. Ini merupakan sebuah prestasi yang prestisius, bagi sebahagian besar masyarakat Riau walaupun sebenarnya prestasi ini merosot jika dibandingkan tahun lalu. Mengingat, pencapaian tersebut mengalahkan beberapa provinsi besar lainnya seperti Jakarta yang notabenenya adalah ibu kota Negara. Banyak anggapan bahwa hal ini merupakan tolak ukur keberhasilan pendidikan di Riau.
Mungkin berbeda dengan sebahagian besar masyarakat, saya mempunyai pandangan bahwa persentase kelulusan UN yang secara statistic membawa Riau menduduki peringkat ketiga nasional tidaklah tepat jika dikatakan sebagai prestasi. Sebelumnya mari kita lihat esensi dari pada pendidikan itu sendiri. Pakar pendidikan bernama Prof. DR. Omar bersama Drs. S. L.La Sulo menjelaskan, pendidikan mempunyai beberapa fungsi yaitu : pertama ; pendidikan sebagai proses transformasi budaya, diartikan pendidikan sebagai pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain. Pada pelaksanaannya ada tiga garis besar bentuk transformasi yang dimaksud. Mempertahankan nilai-nilai yang masih cocok, memperbaiki nilai-nilai yang kurang cocok, dan mengganti yang sudah dianggap tidak cocok misalnya dahulu mempelajari tentang seks dianggap tabu diganti dengan pendidikan seks melalui pendidikan formal. Konsep pendidikan paling tua, Yunani, merumuskan pendidikan sebagai paideia atau pembentukan seorang manusia. Yakni pelatihan anak agar menjadi orang yang benar-benar berbudaya dan mampu mengambil bagian dalm kehidupan sosial budaya masyarakat. Kedua ;pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan berfungsi sebagai kegiatan yang sistematis karena proses pendidikan berlangsung melalui tahapan berkesinambungan , dan juga sebagai kegiatan sistemik karena berlangsung disemua kondisi, situasi lingkungan. Yang kesemuannya itu terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik.ketiga; pendidikan sebagai penyiapan warga Negara, dengan adanya pendidikan diharapkan dapat mewujudkan insan yang baik dalam suatu Negara.Baik yang dimaksud disini bersifat relative tergantung tujuan dari masing-masing bangsa.
Beberapa fungsi pendidikan diatas bermuara pada tujuan pendidikan itu sendiri yaitu untuk memuat dan memahami tentang nilai-nilai yang baik, luhur,pantas, benar dan indah untuk kehidupan. Dari sisni dapat dilihat pendidikan dalam arti subtansial, bukan pendidikan dalam pengertian symbol belaka. Sebuah esensi pendidikan dilihat dari keberhasilan peserta didik dalam menerapkan serta mencerna muatan yang dimaksud sebagai tujuan pendidikan.
Terkait dengan hasil UN yang katanya prestasi, tidak berlebihan jika kita katakan penyebutannya sebagai “prestasi”pendidikan kurang tepat. Karena prestasi yang sebenarnya terletak pada peningkatan kualitas secara substansial sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan itu sendiri.bukan terletak pada angka-angka yang menjadi patokan kelulusan atau peringkat keberhasilan. Hal ini pernah disampaikan oleh seorang tokoh guru bernama pak Mahmud dalam novel laskar pelangi. “ Tolak ukur pendidikan bukan terletak pada angka-angka diatas kertas, tetapi terletak pada pemahaman peserta didik tentang nilai-nilai yang luhur”. Ungkapan tokoh cerita sebuah novel yang buming tersebut sangatlah tepat diterapkan untuk memahami esensi dari pada pendidikan yang selama ini selalu diukur dengan nilai-nilai diatas kertas.
Sangat lucu rasanya jika kita mengatakan gagal dalam pendidikan, kepada siswa yang mengukir prestasi,meraih mendali emas pada olimpiade pisika,dan sebagainya hanya karena tidak lulus UN. lantas kita mengatakan berhasil kepada siswa yang ”badung”, sering tidak naik kelas, dan (maaf) kurang bermoral hanya karena lulus UN. Andai kita masih saja menganggap pencapaian tiga besar tingkat kelulusan sebagai sebuah prestasi kita akan terus berada diruang bernama “kekeliruan” yang lambat laun akan membawa kita kesebuah dimensi semu yang sublim. Merasa memiliki kualitas pendidikan yang tinggi namun nyatanya belum lagi mampu bersaing dengan daerah lain. Karena prestasi pendidikan terletak pada pencapaian tujuan pendidikan yang digambarkan dengan kualitas peserta didik, bukan pada angka-angka diatas kertas yang sebenarnya sangat menipu dan tidak subtansial.
*versi Riau Pos,Selasa 27 April
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar